Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 02 April 2011

Ujian Nasional bikin Stres

0 komentar
Ujian Nasional (UN) tetap akan memicu stres pada peserta ujian karena pemerintah menetapkan syarat kelulusan siswa ada pada UN dan bukan pada proses siswa belajar.

Koordinator Education Forum Suparman mengatakan, formulasi UN yang baru dengan persentase UN tetap lebih besar daripada ujian sekolah yakni 60 persen banding 40 persen tetap akan menimbulkan stres pada anak. Dengan porsi sebesar itu maka UN tetap menjadi penentu kelulusan siswa. “Sama seperti sebelumnya, UN punya pengaruh signifikan dalam penentu kelulusan siswa,” katanya ketika dihubungi harian SINDO.
Selain itu, akan makin banyak peserta UN yang mengalami stres karena dihapuskannya ujian ulangan. Tahun ini juga formulasi UN itu juga baru diterapkan, sehingga masa peralihan tidak akan lepas dari stres pada peserta ujian. Suparman menjelaskan, peningkatan tekanan psikologis akan menggangu siswa karena pemadatan pelajaran serta penambahan waktu belajar yang dilakukan sekolah.

Katanya, anak yang seharusnya pada waktu bermain dipaksa untuk belajar sangat rentan terhadap stres. Apalagi siswa juga pastinya akan sangat tertekan karena proses dia belajar selama tiga tahun hanya ditentukan selama dua hari. Belum lagi suasana sekolah yang juga tegang karena kepala sekolah dan guru pun mengharapkan seluruh siswanya lulus dengan nilai baik.

Suparman menjelaskan, sebenarnya formulasi baru UN dan tidak adanya ujian ulangan sangat melanggar prinsip pendidikan. Katanya, ujian yang diadakan seharusnya hanya sebagai ajang evaluasi dan bukan penentuan kelulusan siswa selama tiga tahun belajar. “Bukan juga sebagai pemetaan dan penentu kelulusan namun UN hanya sebagai evaluasi,” tegasnya.
Untuk mencegah stress, lanjutnya, maka Kemendiknas harus segera mensosialisasikan formulasi baru tersebut kepada siswa dan juga guru.

Sementara Pengamat Pendidikan dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung Said Hamid Hasan berkomentar, UN sangat berpotensi menimbulkan stres karena dengan persentase UN 60 persen masih menempatkannya sebagai penentu kelulusan.

Kemendiknas memaksa siswa untuk belajar dalam penentuan 1-3 hari selama UN berlangsung padahal seorang mahasiswa saja ujian akhirnya dibagi per semester. UN juga tidak selaras dengan prinsip dasar edukasi yaitu pendidikan yang sebenarnya terjadi pada prestasi belajar sehari-hari dan bukan metode kejar tayang yang terjadi di UN.

Said berpendapat, UN tidak mempunyai arti apa-apa selain hanya sekedar menakuti anak didik. Mata pelajaran yang diujikan di UN sendiri hanya sebagian dari pelajaran yang diajarkan anak selama tiga tahun. Padahal proses pendidikan sendiri seharusnya terhubung dengan karakter dan sikap, mampu menyelesaikan masalah serta terbiasa membaca. “Kemendiknas masih memakai peninggalan Belanda (UN). Pada saat itu UN dipakai untuk menyeleksi orang,” ujarnya.

Sependapat dengan Suparman, Said juga mengkritik persentase UN yang lebih besar daripada nilai ujian sekolah. “Seharusnya persentase 70 persen banding 30 persen. Ini akan lebih menjamin potensi anak,” urainya. Selain itu juga Kemendiknas harus memperbaiki mutu guru dan sekolah. “Masa perpustakaan saja tidak ada bukunya, lantas bagaimana mau konsentrasi transfer ilmu kalau sekolahnya saja sudah mau rubuh,” imbuhnya.

sumber:
http://www.madingonline.net/berita/stres-terhadap-formulasi-baru-un.html

Alasan Siswa Malas Belajar

0 komentar
Sering dijumpai di sekolah guru mengatakan “siswa di sini banyak yang malas belajar” tanpa dijelaskan maksud yang sebenarnya dari pernyataan itu. Umumnya guru menambahkan “siswa di sini senang bermain, bergurau sesama temannya”, “siswa bergerombol di luar kelas sesaat setelah bel ganti pelajaran”, “siswa tidak segera masuk ke kelas setelah bel istirahat telah dibunyikan”, “diberi tugas banyak yang tidak mengerjakan”, “nilainya kurang, diberi her malah tidak mau her”, “maunya dia diberi nilai baik walau pun nilai hasil belajarnya sebenarnya tidak baik”. Sekolah mana? Sekolah di luar kota Tulungagung. 

Siswa malas belajar itu wajar kok, mengapa? Guru juga kadang ada “kok” yang malas mengajar? La kepala sekolahnya mana? Ooo Tadi pagi ke Semarang, “kok” ada keperluan keluarga. Tadi katanya ke Malang “kok” gitu saya tadi dengar. Sejak tadi malam sudah berangkat ke Surabaya, “kok” ada urusan dinas. Pagi ini mengikuti worksshoop di SMKK, kok, ada info baru katanya.  Baruuu saja berangkat ke Dinas Pendidikan Tulungagung, “kok” tadi ditelpon dinas. Bapak sejak kemarin mengikuti penataran ke Surabaya selama seminggu lebih, tentang apa gitu lo ada hal baru KTSP “kok” kabarnya. Izinnya tadi “kok” rapat dengan MKKS barruuu saja berangkat. Saya dengar “kok” lagi menendatangani MOU di Jakarta 3 hari lamanya di sana. Lalu “kok” sendiri mana dan bagaimana? Kok adalah manusiawi. 

Siswa malas belajar tergolong perilaku manusiawi, semua mengalaminya. Tetapi malas belajar itu jika sudah terbiasa dilakukan siswa apalagi terkait dengan proses pembelajaran, akan menjadi hal yang menarik untuk diantisipasi. Manajemen sekolah pun ikut bicara dalam mengantisipasi siswa malas belajar. Guru BK cancut menyinsingkan lengan baju membimbing siswa agar tidak malas belajar. Penyebab siswa malas belajar bisa karena intern dan eksten sekolah pada umumnya karena : waktu / jam istirahat di sekolah terlalu singkat, kurang tersedia tempat atau waktu untuk bermain, sedang punya masalah di rumah, "kacau" misal tambah warga baru, tidak suka/phobia sekolah karena mungkin saja perpustakaan sekolahnya belum menyediakan buku-buku yang memadai, sedang sakit, sedih mungkin karena baru bertengkar dengan teman baik, kehilangan buku kesayangannya dan atau memang hobbinya malas.

     Solusi untuk menganisipasi siswa malas belajar dapat dilakukan oleh guru antara lain dengan: 
   (1) Menempatkan jam istirahat bagi siswa untuk keperluan siswa membuang kepenatan, masuk ruang perpustakaan untuk baca atau pinjam buku atau rekreasi sesaat 30 menit? Cukup. 
   (2).Memberikan insentif jika siswa belajar dengan baik berupa materi atau berupa penghargaan dan perhatian guru. 
   (3) Menjelaskan dengan bahasa yang dimengerti siswa, bahwa belajar itu berguna buat anak, belajar bukan  sekedar supaya raportnya baik tidak merah, tapi mendorong rajin belajar, jadi pintar, bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan guru di dalam kelas bisa tambah percaya diri dalam proses belajar di dalam kelas. 
   (4) Mengajukan pertanyaan tentang mata pelajaran bukan test jika anak bisa menjawab guru menyebut kepintarannya itu sebagai “hasil belajar” sebaliknya jika anak tidak bisa, tunjukkan rasa kecewa dengan mengajak siswa membuka buku pelajaran mecari jawabannya bersama-sama. (Ajisaka)

Sumber: http://ajisaka.sosblog.com/Ajis-b1/SISWA-MALAS-BELAJAR-b1-p15.htm